
Gunungkidul 27/7/2025 — Pembina Generasi Penerus (Generus) DPD LDII Kabupaten Gunungkidul menggelar kegiatan silaturahim bersama para dai muda bertempat di Komplek Masjid Al Husna, Padukuhan Kemorosari 2, Kalurahan Piyaman, Kapanewon Wonosari, pada Sabtu, 26 Juli 2025.
Pertemuan ini menjadi ruang konsolidasi menguatkan sinergi untuk pembinaan generasi muda LDII yang unggul, tangguh, dan berakhlak mulia.
Ketua Tim Pembina Generus, Teguh Riyanto, dalam sambutannya mengingatkan bahwa pembinaan generasi muda adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan ketekunan, strategi yang tepat, dan keteladanan nyata.
“Kita mendapatkan amanah besar untuk turut andil dalam membina anak-anak dan remaja, khususnya di lingkungan LDII Gunungkidul. Mereka harus kita bimbing agar sukses dalam pendidikan dunia dan agamanya, serta mampu menjadi generasi yang mengamalkan 29 karakter luhur LDII secara nyata dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Teguh.
Tak sekadar forum silaturahim, kegiatan ini juga diisi dengan sesi kajian dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai bekal spiritual dan metodologis bagi para dai. Kajian ini disampaikan secara bergantian oleh tiga ustadz muda: Edi Sumarwan, Vito, dan Rudi Hermawan, dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan kontekstual.
Ustadz Edi Sumarwan mengajak peserta untuk fokus pada penguatan nilai tauhid dan pembentukan akhlakul karimah sejak dini, sebagai fondasi utama keberhasilan pembinaan. Ustadz Vito kemudian memperkaya dengan strategi pendekatan dakwah yang empatik dan sesuai dengan perkembangan psikologis anak-anak serta remaja. Ia menekankan bahwa komunikasi yang membangun dan kedekatan emosional menjadi kunci keberhasilan dakwah usia dini.
Sementara itu, Ustadz Rudi Hermawan memberikan penguatan penting tentang kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan akhir zaman. Ia mengingatkan bahwa generasi muda saat ini hidup dalam arus zaman yang kompleks, penuh distraksi teknologi dan krisis nilai, sehingga para dai harus mampu menjadi penjaga moral yang tidak hanya menyampaikan, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai keislaman secara nyata.
“Generasi hari ini butuh pendekatan yang relevan. Mereka tak hanya butuh nasihat, tapi juga inspirasi. Kita harus hadir di tengah mereka, menjadi contoh dan tempat bertanya, bukan sekadar penceramah,” ujar Rudi dengan nada yang menggugah dan disambut antusias hadirin.
Agar penyampaian materi lebih aplikatif dan mudah dipahami, para pemateri juga menyisipkan contoh-contoh konkret melalui simulasi situasi pembinaan di lapangan. Mulai dari cara menyapa anak-anak dengan bahasa yang membangun kedekatan, teknik memotivasi remaja agar semangat mengaji dan belajar, hingga strategi menanggapi perilaku menyimpang dengan pendekatan yang mendidik, bukan menghakimi.
Simulasi ini disambut antusias peserta. Mereka merasa lebih percaya diri karena tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki gambaran praktis tentang cara mengimplementasikan materi di lingkungan masing-masing.
Kegiatan ini diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut kolaboratif antara Tim Pembina Generus dan para dai muda. Semangat yang tumbuh dalam forum ini menandakan bahwa para dai muda LDII Gunungkidul siap tampil sebagai agen perubahan, bukan hanya di masjid, tapi juga di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Dengan pendekatan yang membumi, berlandaskan dalil, dan didukung strategi praktis, diharapkan pembinaan generasi penerus LDII Gunungkidul akan semakin berkualitas dan berdampak luas—melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.(penulis supardo)
DPD LDII GUNUNG KIDUL Lembaga Dakwah Islam Indonesia