Rukyatul Hilal di Parangkusumo, LDII Gunungkidul Ajak Umat Bijak Sikapi Perbedaan Lebaran

(dok/lines)

Gunungkidul — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Gunungkidul menurunkan tim rukyatul hilal untuk mengikuti pemantauan hilal penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah bersama Kementerian Agama Republik Indonesia wilayah DIY di Bukit Syeh Belabelu Parangkusumo, Kapanewon Kretek, Bantul, Kamis (19/3).

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur organisasi kemasyarakatan Islam serta komunitas astronomi sebagai bagian dari proses pengumpulan data sebelum penetapan resmi pemerintah melalui sidang isbat.

Ketua DPD LDII Kabupaten Gunungkidul, Wahono Budi Rustanto, mengatakan masyarakat selama ini sudah terbiasa dengan adanya perbedaan dalam penetapan 1 Syawal. Ia menilai, hal tersebut tidak perlu dipertentangkan.

“Perbedaan penetapan 1 Syawal bukan sesuatu yang harus dipersoalkan. Justru ini menunjukkan kekayaan metode dalam Islam, baik melalui rukyat maupun hisab,” ujarnya.

Ia menjelaskan, warga Muhammadiyah di Gunungkidul merayakan Idul Fitri pada Jumat, sementara pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu (21/3) berdasarkan hasil sidang isbat di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kemenag, Jakarta.

(dok/lines)

Menurut Wahono, perbedaan tersebut sudah lazim terjadi dan tidak pernah menimbulkan persoalan berarti di tengah masyarakat. “Ihtiar kita dalam beribadah itu bersifat vertikal kepada Allah, bukan horizontal. Yang penting adalah menjaga ukhuwah dan saling menghormati,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penentuan awal bulan Hijriah memiliki dasar ilmiah dan syariat yang beragam. Karena itu, masyarakat diminta tidak memperdebatkan secara berlebihan.

“Ini bagian dari khazanah keilmuan Islam. Justru yang utama adalah menjadikan Idul Fitri sebagai momentum memperkuat persaudaraan dan kedamaian,” tambahnya.

Sementara itu, Anggota Bidang TIAT DPD LDII Gunungkidul, Irwan Yuliana , menjelaskan hasil pengamatan hilal di lokasi pemantauan. Ia menyebut, posisi hilal saat matahari terbenam berada di kisaran 2 derajat, bahkan mendekati 1,5 derajat pada pukul 18.42 WIB.

“Angka tersebut belum memenuhi kriteria visibilitas hilal di Indonesia yang minimal 3 derajat, sehingga hilal belum dapat terlihat,” jelasnya.

(dok/lines)

Ia menambahkan, keikutsertaan LDII dalam rukyatul hilal merupakan bentuk kontribusi organisasi dalam mendukung proses penentuan awal bulan Hijriah yang ilmiah dan transparan.

“Ini bagian dari peran LDII untuk mendukung pemerintah bersama berbagai pihak dalam proses rukyat,” ujarnya.

Sidang isbat menjadi forum strategis dalam menetapkan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia. Meski sempat muncul prediksi Lebaran jatuh pada 20 Maret 2026, pemerintah melalui Menteri Agama akhirnya menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

LDII Gunungkidul pun mengajak seluruh umat Islam untuk tetap menjaga suasana damai dan saling menghormati perbedaan dalam penentuan hari raya.

“Perbedaan adalah hal yang wajar. Yang penting kita tetap rukun, menjaga persatuan, dan menjadikan momen Idul Fitri sebagai ajang mempererat ukhuwah,” tutup Wahono.(contributor:fajar sodiq)

About wag. gino

Check Also

“Rajut Ukhuwah” PC.LDII Semin Hadiri Pengajian Rutin IPHI dan DMI 

  ​GUNUNGKIDUL – Semangat kebersamaan umat Islam di Kapanewon Semin terpancar kuat dalam acara Pengajian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *