
Gunungkidul – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Gunungkidul menggelar pengajian bersama Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gunungkidul, DR. K.H. Asrofi, S.Ag., M.Hum., Kegiatan ini dilaksanakan secara luring (offline) dan daring (online) sehingga dapat diikuti secara luas oleh warga LDII di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul (12/3/2026)
Dari pantauan media kegiatan pengajian yang dipusatkan di Masjid Al-Husna Kalurahan Piyaman Kapanewon Wonosari diikuti puluhan titik studio mini dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) hingga Pimpinan Cabang (PC) se Gunungkidul.
Ketua DPD LDII Kabupaten Gunungkidul, Wahono Budi Rustanto, S.Pd, dalam sambutannya sekaligus mengapresiasi antusiasme warga dalam mengikuti pengajian yang menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas ibadah di bulan suci Ramadan.
Ia menegaskan bahwa seluruh warga LDII pada malam-malam Lailatul Qadar secara serentak melaksanakan kegiatan takharrouw atau iktikaf di masjid. Kegiatan tersebut merupakan upaya sungguh-sungguh dalam mencari malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Ia juga menekankan bahwa warga LDII memiliki “5 Sukses Ramadan”, yaitu:
Sukses menjalankan puasa Ramadan.
Sukses melaksanakan salat malam.
Sukses mengkhatamkan Al-Qur’an.
Sukses meraih kemuliaan Lailatul Qadar.
Sukses menunaikan zakat.

Selain itu, jamaah juga diingatkan untuk senantiasa membaca doa Lailatul Qadar, yakni:
“Allahumma innaka ‘afuwwun karimun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni”,
yang bermakna memohon ampunan kepada Allah SWT Yang Maha Pengampun dan Maha Pemurah.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Dr. KH Asrofi menjelaskan bahwa tujuan utama seorang Muslim adalah menjadi insan bertakwa, yang diraih melalui proses bertahap (tadrij atau tasriqiyah) menuju kesempurnaan iman.
Ia menegaskan bahwa langkah awal menuju ketakwaan adalah meningkatkan literasi keilmuan, yakni rajin membaca, mengkaji, dan meneliti. Menurutnya, pada masa Nabi Muhammad SAW, berbagai peradaban telah mengembangkan ilmu pengetahuan, termasuk filsafat dari Romawi yang membahas kosmos dan asal-usul kehidupan.
Namun, Islam memberikan konsep yang lebih mendasar, yakni bahwa kehidupan berawal dari penciptaan alam semesta oleh Allah SWT, kemudian penciptaan manusia (Adam dan Hawa). Dalam Alquran, QS. Luqman ayat 27 menjelaskan bahwa ilmu Allah tidak akan pernah habis meskipun seluruh pohon dijadikan pena dan seluruh lautan dijadikan tinta.
“Allah Maha Mengetahui dan Maha Berilmu. Oleh karena itu manusia diperintahkan untuk terus belajar dan berliterasi sepanjang hidupnya,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, setiap organisasi kemasyarakatan memiliki metode pembelajaran masing-masing. Di antaranya melalui sistem sorogan (ceramah) dan bandongan (menyimak) yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan.
Proses belajar tersebut meliputi beberapa tingkatan pemahaman ilmu, yaitu syariah, hakikat, dan makrifat, sehingga seseorang tidak hanya sekadar mengetahui, tetapi benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran agama secara mendalam.
Ia juga mencontohkan prinsip pembelajaran bertahap dalam Al-Qur’an melalui QS. Al-Maidah ayat 6, yang menjelaskan tata cara bersuci sebelum melaksanakan salat.
Dalam penutup tausiyahnya, ia menekankan bahwa prinsip utama dalam beribadah adalah istiqamah, khusyuk, husnuzan kepada Allah, berharap amal diterima, serta rida terhadap ketetapan-Nya.
Rangkaian pengajian ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada Ketua MUI sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi atas tausiyah yang telah disampaikan. Dengan melalui kegiatan ini umat Islam, khususnya warga LDII, dapat meraih ampunan Allah SWT sehingga kembali dalam keadaan suci, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. (contributor Bambang)
DPD LDII GUNUNG KIDUL Lembaga Dakwah Islam Indonesia