GUNUNGKIDUL – Ada yang menarik dalam rangkaian kegiatan Cinta Alam Indonesia (CAI) ke-47 Kabupaten Gunungkidul Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hadi Gunungkidul pada Sabtu–Minggu, 1–2 Agustus 2026. Tidak hanya menyimak pemaparan materi, ratusan generasi muda LDII (usia SMP hingga usia mandiri) diajak untuk terlibat aktif dalam sesi Focus Group Discussion (FGD).
Sebagai informasi, kegiatan CAI di Gunungkidul ini merupakan tindak lanjut dari perhelatan CAI ke-47 tingkat nasional yang sebelumnya sukses dilaksanakan oleh Ponpes Gadingmangu di Bumi Perkemahan Kosambiwojo, Wonosalam, pada 27 Juni hingga 2 Juli 2026 lalu.

Dalam sesi FGD kali ini, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok diskusi. Masing-masing kelompok menyelami tiga tema utama yang sangat relevan dengan dinamika pemuda saat ini, yaitu:
-
Penerapan 29 Karakter Luhur
-
Peningkatan Daya Juang Generus
-
Pencegahan Kemaksiatan
Melalui forum ini, para generasi muda tidak hanya dituntut untuk berani menyampaikan pendapat, tetapi juga diajak menyusun langkah konkret. Setiap kelompok merumuskan gagasan, mengusulkan berbagai solusi, hingga menyusun action plan nyata yang dapat diterapkan secara langsung dalam pembinaan generus di wilayah masing-masing.
Pihak penyelenggara merancang FGD ini sebagai wadah untuk membentuk mentalitas pemuda yang kritis, inovatif, berani tampil, serta memiliki kemampuan penyelesaian masalah (problem solving).
Ustadz Purwanto, Guru Ponpes Al-Hadi menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang latihan nyata bagi para pemuda dalam menghadapi persoalan di lapangan.
“FGD ini bukan belajar musyawarah, tapi langsung kita praktikkan untuk mengidentifikasi masalah, mencari akar masalah, serta mengusulkan berbagai solusi dalam pemecahan masalah tersebut,” terang Ustadz Purwanto.
Pendekatan ini juga disambut baik oleh narasumber lainnya, Arum Fahmi Faulana. Ia menilai forum sesama generasi muda ini menjadi ruang yang aman dan tepat untuk saling terbuka.
“Karena ini forumnya adalah generus, harapannya FGD bisa lebih terbuka dalam menyampaikan apa yang benar-benar dihadapi, serta apa yang dirasakan,” tambah Arum Fahmi.
Setelah berdiskusi intensif, setiap kelompok mempresentasikan hasil pemikiran dan action plan mereka di hadapan seluruh peserta serta para narasumber, yang turut didampingi oleh Ustadz Moch. Sofyan Djaelani.
Melalui dinamika diskusi yang aktif dan solutif ini, CAI ke-47 di Ponpes Al-Hadi Gunungkidul terbukti tidak hanya menjadi sarana penanaman nilai moral, tetapi juga wadah pembentukan karakter pemimpin masa depan yang responsif dan berdaya juang tinggi.
DPD LDII GUNUNG KIDUL Lembaga Dakwah Islam Indonesia