
GUNUNGKIDUL — Dengan suasana khidmat dan penuh semangat mewarnai halaman Pondok Pesantren Al-Hadi, Gunungkidul, pada Minggu pagi (27/9/2026). Rangkaian kegiatan perkemahan akbar santri yang diinisiasi oleh Satuan Komunitas (Sakoda) Sekawan Persada Nusantara (SPN) Daerah Istimewa Yogyakarta resmi ditutup.
Upacara penutupan Kemah Santri SAKO SPN DIY yang keempat ini dipimpin langsung oleh Ketua Sako SPN DIY, Kak Sarjita, dan dihadiri oleh para santri dari sembilan pondok pesantren se-DIY. Gelaran perkemahan yang berlangsung selama tiga hari sejak Jumat hingga Minggu (25–27/9/2026) ini mengusung tema aktual, yakni “Peran Santri di Era Digital Membumikan 29 Karakter Luhur”.
Dalam amanatnya di hadapan ratusan peserta, Kak Sarjita menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini sekaligus berpesan agar para santri mampu mengambil esensi dan pelajaran hidup dari alam terbuka selama perkemahan berlangsung. Menurutnya, kehidupan di luar pondok pesantren tentu memiliki dinamika yang berbeda, sehingga pembinaan karakter dan pengendalian diri menjadi kunci utama.
“Harapannya melalui kegiatan kemah ini, para santri dapat mengambil pelajaran hidup dari berbagai kegiatan yang kita lalui bersama,” ungkap Kak Sarjita dalam arahannya.

Ia juga menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai luhur yang telah didapatkan selama kegiatan kepramukaan ini. Kak Sarjita berpesan agar para santri tidak hanya berhenti pada pemahaman teori, melainkan aktif mengaplikasikannya di lingkungan sosial masing-masing.
“Terkait dengan pendidikan 29 karakter luhur, kami harapkan semua santri dapat memahami dan mempraktikkannya di lingkungan masing-masing, serta menjadi contoh yang baik bagi masyarakat,” imbuhnya.
Ajang Silaturahim dan Praktik Nyata Kemandirian
Kemah Santri SAKO SPN DIY yang keempat kalinya ini dirancang tidak hanya sebagai wadah pembinaan kepramukaan, tetapi juga sebagai sarana mempererat tali silaturahim antar-santri lintas pondok pesantren di wilayah Yogyakarta. Melalui kegiatan luar ruang yang interaktif, para santri dilatih untuk beradaptasi, berkolaborasi, serta menguji ketangguhan mental dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, selaras dengan semangat santri di era digital.
Dengan berakhirnya upacara penutupan yang ditandai dengan pernyataan resmi serta ucapan syukur, para peserta tampak antusias dan bersiap untuk kembali ke pondok pesantren masing-masing. Diharapkan, semangat kebersamaan, kedisiplinan, dan 29 karakter luhur yang tertanam selama perkemahan ini dapat terus dibawa dan diterapkan dalam keseharian mereka sebagai generasi penerus bangsa yang berakhlakul karimah.(contributor Arum F)
DPD LDII GUNUNG KIDUL Lembaga Dakwah Islam Indonesia