Setda DIY Apresiasi LDII Pelopori Gerakan Tanam Pohon di Yogyakarta

Setda DIY H. Djarot Margiantoro, S.TP., M.Sc

Lines Gunungkidul (1/12) : Kepala Biro Bina Mental Spiritual Setda DIY H. Djarot Margiantoro, S.TP., M.Sc., mengapresiasi kegiatan DPP LDII dalam Launching Penanaman Pohon di Bumi Perkemahan Dewaruci, Minggu (28/11/2021) sore.

“Bagi kami Ini merupakan gerakan LDII yang membanggakan, Penanaman Pohon Filosofis dan Pohon Warna di Bumi Perkemahan Dewa Ruci, dalam kerangka selebrasi Hari Menanam Pohon Indonesia sekaligus Bulan Menanam Pohon Nasional, merujuk pada Kepres R.I. No. 24 Tahun 2008,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Penanaman simbolis lanjut  Djarot “hari ini sangat penting dan patut didukung, karena beberapa alasan kuat. Pertama, bahwa Allah telah menciptakan bumi seisinya dengan kesempurnaan dan keindahan, “Lalu kita tunjukkan kehambaan kita di hadapan bentangan nikmatNya dengan cara merawat ciptaanNya serta mendayagunakannya agar memberikan manfaat lebih banyak, lebih baik, dan lebih lestari,” jelasnya.

“… fa ahsin kamaa ahsana llaahu ilaika, wa laa tabghil-fasaada fi l-ardli,” atau dalam aforisme yang dicetuskan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma Raja III Mataram Islam, ‘Hamemayu hayuning bawana’.

Kedua, peristiwa hari ini di tempat ini merupakan wujud kesadaran dan kepedulian kepada masyarakat tentang nilai penting upaya pemulihan dari kerusakan sumber daya hutan dan lahan melalui penanaman pohon.

Ketiga, yang akan ditanam adalah pohon-pohon yang menyimpan nilai filosofis, juga estetis dan ekonomis, yang di Yogyakarta memiliki makna serta harapan khusus, seperti pohon kepel, tanjung, cempora, pakel, pelem, soka, kweni, jambu dresana, gayam, asem, beringin (wok, jenggot, dewandaru dan janandaru), dan juga pohon sumber warna untuk entrepreneurship berbasis ecoprinting.

“Jenis-jenis vegetasi tadi menyatu dengan sumbu filosofis Yogyakarta yang menggambarkan sangkan paraning dumadi, dari mana manusia bermuasal, ke mana manusia berpulang dalam keabadian, yang membentang dari Panggung Krapyak, Karaton, hingga Tugu Pal Putih atau tugu golong gilig,” jelasnya yang pernah menjabat Kasi Sarana Prasarana Tanaman Pangan Dinas Pertanian DIY.

Djarot menambahkan, khusus pohon kepel (Stelechocarpus burahol) yang ditanam hari ini, dikenal juga sebagai burahol atau kecindul. Di masa dulu, buahnya digemari oleh Putri Keraton, karena berkhasiat mengilangkan bau keringat dan badan, membuat napas sang putri beraroma wangi, dan menambah kecantikan wajah.

“Kala itu, Baginda Raja meminta kepel ditanam di halaman Kerajaan. Pohon ini unik, karena buahnya yang oval dan berwarna kecoklatan seperti sawo (sapodilla) tumbuh pada kulit batang, bukan di pucuk ranting atau dahan,” katanya.

About wag. gino

Check Also

LDII dan Ormas Islam Bangun Komunikasi Pererat Persaudaraan

Gunungkidul, 9/4/2024 , Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Gunungkidul intensifkan kerjasma …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *